Powered By Blogger
Jangan lupa tinggalkan pesan anda dan komentar anda setiap kali berkunjung ke halaman ini ya.....
Showing posts with label kritik. Show all posts
Showing posts with label kritik. Show all posts

Sunday, November 11, 2018

[0036] Menyederhanakan Konflik

Ini tidak mudah.
Tidak semudah mengatakannya.
Pada kenyataannya, menjadi hidup ditengah banyak kematian itu juga bukan hal sederhana.
.
Semoga kita selalu diberi kekuatan untuk memegang komitmen dalam kedisiplinan diri dihadapan ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala.

.
Amiin.

Sunday, February 02, 2014

[Me] Kata-kata


ingin selalu tersenyum, kalau bisa...
jangan ada lagi air mata, kalau bisa...
tak ingin tersiakan lagi semua usaha, kalau bisa...

padahal

memang bisa...

bagaimana bisa???

--

Thursday, January 30, 2014

[Me] Pilihan untuk tetap menjadi saya

Saya belajar banyak selama sakit, hal-hal yang belum saya pahami dengan benar awalnya. Tentang prioritas, tentang berbuat, juga menentukan pilihan.

obrolan malam lalu dengan suami saya, seperti membangunkan saya, yang nyaris tidak menyadari berapa banyak hal yang sudah tersiakan selama ini dalam hidup saya...

baiklah, kita mulai dari mana???

coba intip dulu yang satu ini.

Thursday, January 23, 2014

[Me] As a Mom - for my future generation

gambar hasil googling
ada hal yang datang ketika tumpukan piring kotor yang saya hadapi, memberikan gambaran jelas, bagaimana pekerjaan seorang ibu, tidak hanya sekedar membersihkan piring, rumah, merapikannya kembali, menata ulang apa yang dibuat berantakan anak-anaknya.
ada yang lain, lebih dari sekedar tangan yang basah dan kadang menjadi kasar karena sabun cuci piring.
apa?


Friday, January 03, 2014

[Me] Memilih Wakilmu

hai kawan...
dini hari dan masih menghadap komputer? apa yang sedang kamu kerjakan?
syukurnya, di tengah-tengah ide yang tumpah dan kata-kata yang harus dirangkaikan untuk mengejar Januari 50 ribu Kata, saya menemukan ide ini....

tentang apa?
tentang memilih wakilmu.

wakil apa?

Monday, December 23, 2013

[Malang] Kenyamanan yang te-rReduksi

Complaining something like this maybe not usefull for today, but May Allah SWT help me to make this world better for the future, even it something impossible to believe right now.


Jam 4 pagi....
Tidak ingin terbawa emosi sesaat atau juga KEMARAHAN SESAT.
Saya juga gak mau jadi tukang maki yang tidak punya bukti.
Tapi sungguh, manusia punya batas kesabaran, dan yang satu ini sudah 'empet' banget menyimpannya. Sampai bau kayak sisa pencernaan....

Bukan tanpa alasan, tapi siapa yang gak keberisikan dengan teriakan dini hari dengan bahasa 'aneh' yang entah siapa yang mengawalinya...
Yang pasti, kalau memang mereka punya izin dari Abah Anton...

HAI GUYS... THIS TOWN IS NOT JUST HIS OWN... lagian kampung bapakmu dimana, coba kamu bawa sekelompok manusia berisik ke kampung bapakmu, kalau kamu gak dibakar orang kampung utusan bapakmu.


Abah Anton yang kasi izin keramaian???


Thursday, November 28, 2013

[Malang] Ruang Publik dan Fasilitas Umum

Ini adalah kotaku, Malang. 
Aku lahir dan besar di kota ini, dengan sendirinya aku merasa nyaman dengan suasana dan iklim dalam lingkungan yang berkembang disekitaranku.
Tapi ini hanya sebuah kota, mau dibilang besar dia tidak terlalu luas, hanya butuh satu hari untuk mengetahui banyak tempat menarik didalamnya. mau dibilang kecil, akses dan sejarahnya cukup menarik untuk dipelajari dan dikenali dengan lebih detail.
kalau kamu berencana berwisata, sedikana waktu paling sedikit tiga hari, setidaknya aku bisa menunjukkan beberapa tempat penting yang wajib kamu datangi.

tugu kota

Wednesday, August 29, 2012

[Malang] How can it be?



Jangan tanya kenapa judulnya begitu, karena aku juga gak tau harus pilih judul apa pagi ini.
Sesaat setelah update poto di twitter, semua langsung komentar....
ini adalah suasana Jalan Soekarno Hatta, pagi ini.
Hari pertama OsMaBa UB gelombang pertama.
yang biasanya jam segini, jalanan masih lancar, pagi ini padat merayap....

How can it be??


-phy-

Tuesday, August 14, 2012

[Malang] Mall Baru ~ Tahun Depan???

Hari ini ke swalayan dekat rumah, dan keluar dari parkiran disodori satu liflet penjualan 'shop' di sebuah Mall Baru, yang pembangunannya membongkar pasar tradisional di Kecamatan Lowokwaru - Kota Malang.

Hm...
ada daftar harga-nya,
500juta'an...
dan ternyata setelah di googling, salah seorang senior sudah memposting-nya lebih dulu...
MALL DINOYO CITY
yang kalau aku post lagi disini, kayaknya jadi gak asik buat dibaca... jadi klick aja link diatas untuk tahu harga-nya.

tulisanku kali ini lebih ke pendekatan humanis aja.
untuk sementara, Pasar Dinoyo, dipindahkan ke area kelurahan Merjosari (selatan Jl.MT Haryono - area Mall Dinoyo City dibangun).

dan untuk sementara, kemacetan yang ditimbulkan tidak seberapa, walau kebisingan didepan rumahku tidak cukup bisa diatasi.terutama sepeda motor yang lewat di jam-jam yang tidak lumrah.
dan sedang tidak ingin membayangkan, kemacetan yang akan muncul berikutnya, jika Mall itu terbangun.

lebar Jl.MT Haryono, pada tiap lajurnya hanya seukuran 2 mobil, tidak dihitung bahu jalan yang sering dijadikan tempat jualan pedagang kaki lima, atau parkiran dadakan toko-toko yang ada disepanjang jalan.
Tidak termasuk ketika Kampus UNISMA - yang bakalan tepat berada di barat Mall, kalau sedang wisuda.

kemacetan yang tidak ingin aku bayangkan sekarang.

Jalur alternatif yang ada untuk menembus kemacetan itu nantinya adalah Jalur perumahan ITP, Tlogo Indah (depan tandon air tlogomas) dan itu semua muara-nya, melewati Pasar Merjosari, yang lebar jalannya dua arah hanya selebar 3 mobil.
(bisa cek google Map - untuk cek lokasi *Mertojoyo, Merjosari, Malang, Jawa Timur*)
bertumpuk dengan pelajar yang berangkat sekolah (karena itu adalah area tempat tinggal / perkampungan / permukiman perantauan).
Belum lagi tukang ojek, Dokar (a.k.a Delman) yang akan tergusur daerah operasi-nya....

Owh... Mall Baru dan Kemacetan Baru....

apa ada solusi?
Pelebaran jalan = memotong sepadan rumah penduduk / menutup saluran air (yang belum terselesaikan sampai sekarang di Jalan Mertojoyo) / Bikin fly-over???

Heheheeee... sampai jumpa di reportase selanjutnya.


-ephy- warga kampung Merjosari.
next posting aku kasi foto-deh, biar gak jadi HOAX.


Monday, August 13, 2012

[ephy] BOOK TEASER ; SAVE MY HEART

Ternyata istilahnya, BOOK TEASER (by google ; buku penggoda)
aku baru 'ngeh' setelah seorang teman membalas kirimanku dengan bahasa Inggris... (atau mungkin bakalan ada yang kirim dengan bahasa lain juga??)
dalam satu minggu kemarin, aku kirim contoh, cuplikan dari opening novel-ku yang pertama!!!!
judulnya SAVE MY HEART. <<-- detail pembuatannya bisa klik langsung .

ini adalah karya pertamaku dalam bentuk novel sejumlah 50ribu kata (hitungan msword)
dan dikerjakan selama satu bulan, diselesaikan dalam kurum 6 bulan berikutnya. (lihat di link judul)

dan saat ini, aku sedang mencoba juga, penjajakan endorser. dan berharap nantinya pembaca buku ini bakalan tahu, bagaimana sebenarnya kisah menarik dari pengalaman menulis saya.

saya mencoba mengontak admin blog, salah satu personel girlband Indonesia yang sedang naik daun. saya mencoba men-follow beberapa public figure yang ber-dedikasi di bidang penulisan, komunikasi, dan beberapa desainer yang menjadi inspirasi 'beberapa' naratif dalam cerita di novel ini. (demi endorsement)

selling point (istilah lain yang baru bagi saya) dari novel ini ; adalah bagaimana meng-inter-koneksi-kan pertemanan dari beberapa tokoh yang saya imajinasikan. tidak mudah menciptakan karakter2 yang berbeda, menceritakan kehidupan mereka masing-masing, dan menemukan 'benang merah' yang menjadikan itu kesatuan utuh cerita, yang layak baca.

setelah gabung di J50K - kampung fiksi ; saya mendapatkan pengalaman berharga di bidang penulisan.
setelah hanya berkutat dari cerpen-novelet-cerpen-blog-dan seterusnya... akhirnya saya punya novel yang diselesaikan dengan sangat menyenangkan....
terima kasih juga untuk G30HM -wrisocmed- yang mengenalkan saya pada NANOWRIMO, dan semoga di November depan, saya bisa melanjutkan pekerjaan saya tahun lalu yang belum terselesaikan.

jadi, intinya... ada yang tertarik untuk membaca cuplikan novel pertama saya???
just follow *dalamceritasaja.blogspot.com* dan tinggalkan pesan dipostingan ini.
selanjutnya bisa mention saya di twitter @AnakkuSaffanah dan DM alamat email anda, atau juga boleh via FB :)
nanti saya kirimkan cuplikannya...

sampai bertemu dengan buku saya di toko buku... :D
*sangat optimis!!! padahal belum dapat penerbit*


_ephy_ as a writer

Monday, July 30, 2012

Ketika harus menemukan Pembaca

Stress??? Jelas.
Nyaris gak bisa tidur kalau mikirin soal ini doang.
novel yang udah hampir selesai proses editing-nya, masih gak tau mau dikirim kemana.
curhat?
ya, saya bertanya kepada beberapa orang yang memang sudah lebih pengalaman ketimbang pribadi yang gak gaul ini.
dan memang kenyataannya.. saya tidak punya pembaca setia.
saya hanya menulis dan menulis....
dan tidak pernah tahu kapan punya pembaca setia.
karya saya masih stagnan pada kisah remaja, atau memang karena gak mau tambah tua, cerita yang ditulis memang masih sekitaran cerita remaja....
pecaya atau tidak....
rasanya semakin pusing sekarang.
any idea?
saya butuh masukan membangun, semangat lebih yang bisa memaksa saya mengirimkan tulisan kali ini ke penerbit.


untuk contoh tulisan saya yang lain..... boleh lihat DI attach-file

tolong bantu saya.... 


Friday, December 04, 2009

[HOUSE] Apartemen di Malang - sekali lagi, sebuah tantangan

Untuk memastikan, coba cek dulu kebenaran-nya disini

sebuah tower/menara setinggi lebih kurang 15 lantai akan menjadi dinding sungai yang baru... segera.

untuk presentasi jelasnya baca dulu yang ini.
ada lay out lokasi dari calon menara ini

aku berencana datang ke acara lounching-nya, (5 desember 2009) di hotel Santika. tapi sayangnya yang bisa datang hanya by invitation.

awal bulan kemaren sempet kaget waktu baca wall teman-ku di fb, dan temannya temanku itu ada yang menawarkan undangan acara lounching apartemen itu.
lebih dua minggu aku memastikan bahwa memang lokasi-nya memang di titik itu...

dan percaya gak percaya, dalam 3 hari ini iklan promo-nya ada di media lokal kota malang. dan siang ini aku cek di web-nya... yang isinya hanya 1 gambar... dan memang disitulah lokasi-nya... ditambah spanduk dan baliho yang dipajang di lokasi tersebut...

i can't imagine that...

kenapa saya tidak bisa percaya?
karena beberapa alasan

1. lokasi di sepadan sungai Brantas, yang menjadi pembelah kota Malang. lebih kurang 50 m dari sungai dengan kontur curam lebih dari 10 m.

2. lokasi yang enterance-nya berhadapan langsung dengan jalur TER-sibuk di Malang. terutama saat jam kerja dimulai karena terdapat dua kampus besar yang memanfaatkan jalur sibuk tersebut sebagai main enterance-nya.

3. lokasi tersebut tidak memiliki view yang "cukup-menyenangkan", dalam artian, diseberang sungai, terdapat pabrik es, pekuburan, dan permukiman padat penduduk. walaupun itu bukan hal yang negatif, tapi kalau tidak di atas lantai 5, pemandangan tersebut akan jadi bagian dominan arah selatan bangunan.

ini adalah tantangan berat yang harus segera dipecahkan, apakah perencanaannya sudah sesuai dengan izin dan AMDAL, dan apakah resiko tanah labil bisa diatasi dengan perkerasan buatan, terlebih pondasi untuk 15 lantai dan 700 lebih unit hunian, itu bukan suatu hal yang "MUDAH"

pembangunan dan target perkembangan kota kelahiran-ku ini memang mengagumkan, terlebih setelah 20 tahun berjalan, banyak perubahan yang sangat signifikan dilakukan oleh pemerintah daerah.

Mulai dari shoping center di tengah komplek pendidikan,
Shoping center di kawasan olah-raga kota
usaha perombakan bangunan kolonial menjadi pusat plasa di komplek perbelanjaan...
sampai sekarang...
Promo Apartemen pertama di kota Malang.

ini bukan review, tapi juga bukan cuma kritik...
ini hanya wacana yang harusnya mereka semua tau...
tantangan mengembangkan kota itu bukan hal sepele.
bukan sekedar bayar ini - itu trus bisa langsung jadi...

ok. yang berikutnya saya usahakan bisa posting gambar-gambar lengkap pembangunannya.

-salam hormat-
ephy



Tuesday, May 01, 2007

sesuatu dibalik drama televisi

sesuatu dibalik drama televisi yang membuat batinku merasa harus mengisi halaman-halaman ini kembali...
ini sesuatu tentang yang berjudul ROMAN PICISAN
diperankan oleh EVAN SANDERS dan NIKITA WILLY...
ah....
aku ingin marah!!!
tapi pada siapa?
untuk apa?
lalu?

coba baca tulisan yang pernah aku buat ini....


Aku sudah bosan, aku bosan dengan apa yang selalu aku lakukan sendiri, dengan mama yang sibuk di London, papa yang jarang pulang dari New York, dan aku? Aku anak tunggal dengan rumah yang seperti istana, dan hidup layaknya putri. Teman-teman di sekolah? Tidak, jangan pernah tanyakan tentang teman-temanku, aku gak akan pernah serius menanggapi mereka sebagai teman, manusia-manusia itu… mereka hanya mau memanfaatkan kekayaan orang tuaku, kepintaranku, atau juga kecantikanku. Dan sampai hari ini, aku masih tidak tahu, apa yang seharusnya aku lakukan, sampai dia datang… dia.

Namanya Seta, dia bukan saudaraku, sepupu, keponakan, atau apapun itu yang masih berhubungan darah denganku, tapi dia benar-benar mempesonaku. Dia supir baruku, namanya Arya Seta. Waktu itu mau ku panggil Arya, biar lebih keren, tapi dia tidak mau dia suka dengan namanya, Seta. Usianya dua puluhan, dan papa memintanya menjadi supir pribadiku karena ulang tahun yang kemarin papa menghadiahkan sebuah Baleno untukku, warna hitam metalik. Dan dengan Seta sebagai driver-nya jadi lengkap sudah, mobil keren dengan supir keren.

Awalnya aku gak percaya kalau dia jadi supir karena butuh uang, karena sebenarnya dia bukan orang baru di kantor papa, sudah terlalu lama dia tidak bisa naik jabatan katanya. Mmm… di kantor papa dia bagian dapur dan akhirnya dia menawarkan diri untuk menjadi pembantu di rumah pada papa, tapi papa malah memberinya pekerjaan menjadi supir pribadiku. Ah… terlalu lama, bertele-tele.

Begini ceritanya, siang itu, bulan kedua Seta menjadi supirku…

“Seta, nanti pulang sekolah, aku janjian sama Della mau ke Gramedia, jadi jangan telat, ya.” Aku mengatakannya setelah ia menghentikan mobilnya tak jauh dari gerbang sekolahku.

“Ya, mbak, saya juga jarang-jarang telat jemput mbak.” Candanya padaku.

“Hmmm… iya ya? Ya udah.” Dan aku meninggalkan mobilku.

Della, dia pe-ngeceng sejati, aku gak tahu berapa banyak gebetannya, berapa kali dia sudah pacaran, berapa banyak pula pacarnya hari ini. Dia seleb sekolah, Della jalan denganku baru satu minggu waktu hari itu, tapi ya… yang namanya teman untukku itu hanya untuk keluar, jalan, shopping, dan paling puol… adalah nonton. Siangnya ketika bel pulang berbunyi Seta sudah ada di depan sekolah, dia sedang bersandar pada dinding mobil dan menatap kearah gerbang, menungguku.

“Hai, Seta dah lama nunggu?”

“Belum, sepuluh menit.” Dia melirik jam di tangan kirinya.

“Siapa, Ning?” Della berbisik di telingaku.

“Oh, ya, Seta, ini Della. Del, ini Seta.” Mereka bersalaman.

“Mas, cakep, deh. Pacarnya Ning?” Satu kalimat yang tak sempat aku perkirakan, dan itu membuat Seta membungkam mulutnya sendiri.

“Bu…bukan…” Dia tertawa, dan kemudian membukakan pintu mobil untukku, dan setelah Della dan aku masuk, dia menuju belakang kemudi.

“Sorry, Del, dia bukan pacarku, dia supir baru papaku.” Bisikku pada Della dan membuatnya melotot kaget.

“Mas, beneran mas supir?” Tanyanya tak percaya, ketika Seta memutar setirnya. Dan dia hanya mengangguk sambil menahan tawa.

Lagu itu nyaring dari sound di dalam mobilku, Bintang by Air. Dan kami menuju mall terbesar di kota ini, aku mau belanja, especially books.

Pulangnya setelah mengantar Della, aku duduk di depan, di sebelah Seta, tampaknya dia sedikit tidak nyaman aku duduk di sebelahnya. Karena selama dua bulan aku selalu duduk di belakang.

“Seta, kenapa?”

“Mbak kenapa gak duduk di belakang?”

“Gak suka saya temani?” Tanyaku memastikan.

“Gak pa pa, tapi tumben saja.”

“Aku pingin cerita sama kamu, tapi janji jangan cerita pada siapapun di rumah atau di manapun.” Jelasku, dia mengangguk setuju.

“Menurut kamu Della itu cantik gak?”

“Cantik, kenapa Mbak?”

“Di sekolahku banyak yang secantik Della atau malah lebih cantik. Mereka semua suka sekali dengan barang mewah, termasuk Della, tapi sebenarnya ketika aku bersama mereka, jujur saja… aku bosan.”

“Bosan kenapa, Mbak?”

“Seta, kamu pernah gak punya jam tangan harga dua atau tiga juta?” Aku bertanya padanya, dan tentu saja dia menggeleng, dia hanya supir, bukan papaku.

“Buat mereka itu biasa, dan aku bosan terus-terusan hanya dipedulikan dengan uang.” Dan aku menghela nafasku lelah.

“Jadi, Mbak mikirnya orang tua Mbak hanya mempedulikan Mbak dengan uang saja.” Dia menebaknya dengan tepat.

“Mungkin, gak boleh ya…, tapi aku ingin merubah gaya hidupku ini, kamu ada saran gak, Ta?” Dan aku menatapnya penuh harap.

“Mbak minta saran saya?” Dia menatap, jauh dalam mataku, menembus hatiku.

“Aku pikir kamu lebih dewasa daripada aku, dan kamu pasti punya solusi yang baik untuk aku jalani.” Dan aku melepaskan tatapan itu.

Pembicaraan kami terhenti, karena kami sudah sampai di gerbang rumahku. Dan aku meninggalkan Seta, tanpa kata-kata lagi. Aku harap dia punya jawaban dari keinginanku itu, kalau pun mama dan papa tidak mengizinkanku untuk berubah, aku akan bersujud di kaki mereka agar mengizinkanku berubah, karena satu bulan setelah hari itu Seta benar-benar merubahku.

Sebuah kehidupan yang baru. Seta tak lagi menjemputku dengan Baleno, aku berangkat dengan Baleno dan pulang naik angkot, berdua dengan Seta tentunya. Week end ku bukan ke mall atau nonton, Seta mengajakku ke perpustakaan umum kota, dan kami menghabiskan banyak buku untuk dibaca di sana, dan pulang ketika matahari sudah turun. Jadwal shoppingku setiap hari jum’at dihapus, aku menambah jadwal les pianoku dan bahasa jepang. Gak ada lagi Indovision 24 jam, yang ada hanyalah tambahan kelas baletku, selainnya itu, menu makanku juga berubah. Hidangan yang biasanya selalu lengkap, sejak hari itu jadi seadanya, secukupnya, dan tak lagi berlebih satu butir nasi pun. Semuanya berubah.

Awalnya memang sangat sulit, tiga hari setelah pulang naik angkot aku kena flu, polusi membuatku terkontaminasi. Saat kali pertama ke perpustakaan umum kota, aku sangat heran, sebab bangunan yang dulu selalu aku kira kantor Pemda itu tenyata adalah istana buku. Shopping, Della sempat heran, karena sebelumnya kami sudah buat janji untuk hunting baju baru saat week end berikutnya, tiba-tiba aku membatalkannya. Della sempat berbisik padaku saat itu…

“Kamu pacaran sama Seta, ya?” Dan Della benar-benar membuatku panas. Dia berteriak pada seisi kelas, mengumumkan kalau aku pacaran dengan supirku. Aku menyerah padanya.

Dan guru les pianoku sangat heran ketika kuminta jam tambahan, tapi hasilnya? Aku dapat tawaran untuk membuat konser perdanaku. Ballet, hal yang aku tekuni sejak usiaku enam tahun itu… Mother Ter menawarkanku untuk ikut audisi sekolah balet di New York, dengan begitu aku bisa tinggal dengan papa, tanpa harus kesepian di rumah, atau merasa bosan karena tak punya teman bicara. Dan setelah semua itu berjalan selama enam minggu, papa dan mama pulang.

“Kamu yakin mau pindah ke New York?” Tanya mama tak percaya.

“Audisinya dua bulan lagi, dan dalam dua bulan ke depan Ning sudah akan menyelesaikan tahun ajaran ini, Ma.”

“Mama, dan papa tidak akan keberatan, kamu mau di London atau di New York bersama papa, itu bukan masalah. Tapi apa kamu benar-benar tidak apa-apa meninggalkan sekolah dan teman-temanmu?” Mama menatapku ragu.

“Teman Ma, teman yang mana?” Aku tak mengerti, mereka tak pernah kenal siapa temanku, mereka tak pernah tahu itu.

“Mama pikir gak mungkin kalau kamu gak punya teman, Sayang. Pasti ada, ini adalah rumah kita, di sini tanah airmu, pikirkan lagi.”

“Paspor dan visamu bisa diurus segera kalau kamu tekadmu sudah bulat.” Papa menimpali.

“Tak ada yang melarangmu untuk pergi, Sayang. Gak akan ada yang berubah.” Papa menatapku berbeda, dan beliau memindahkan tubuhnya kedekatku dan kemudian merangkulku dalam dekapannya.

Berubah, sudah terlalu banyak aku berubah, selama satu bulan ini, dan segalanya membuatku tak lagi bosan. Tak ada keglamouran, tak ada foya-foya, tak lagi pemborosan, dan… tak ada lagi kata kesepian, karena aku selalu berada di tengah keramaian. Besok adalah konser perdanaku, dan malam ini aku tak bisa tidur nyenyak setelah apa yang dikatakan mama tadi….

“Mama, dan papa tidak akan keberatan, kamu mau di London atau di New York bersama papa, itu bukan masalah. Tapi apa kamu benar-benar tidak apa-apa meninggalkan sekolah dan teman-temanmu?”

Hanya karena kalimat itu, aku kembali meninggalkan kasurku yang tetap nyaman dan hangat waktu malam, dan aku menuruni satu-satu anak tangga, kulangkahkan kakiku menuju piano besarku di ruang tengah, dan kurasakan sepi itu lagi, karena saat malam datang, memang hanya sunyi yang hadir di rumah sebesar istana ini. Dan satu-satu aku mulai menggerakkan jemariku di atas tuts putih dan hitam pianoku. Dan satu lagu yang akan kumainkan besok, A Comme Amour by Richard Clayderman. Tak terasa air mataku basahi pipiku, dan saat nada terakhir di ujung jariku, satu suara mengejutkanku.

“Mainkan lagi.” Seta, aku sangat terkejut melihatnya.

“Kenapa berhenti? Mainkan lagi, yang terakhir, untukku.”

“Terakhir?”

“Besok aku berhenti, besok setelah kamu putuskan untuk pindah ke New York dan mengikuti audisi sekolah ballet itu.” Dia menatapku dalam kegelapan itu.

“Berhenti? Sudah cukupkah tabunganmu, dan gak perlu pekerjaan sebagai supir lagi?” Aku menanyakannya.

“Aku harus berhenti karena tak ada lagi orang yang harus aku antar dan aku jemput setiap harinya, dan aku gak mau kalau harus tetap di sini, tanpa kamu.” Ia berbalik dan melangkah, tapi aku masih saja sulit mencerna kalimatnya itu, aku bingung.

Dan aku tetap pada pilihanku, saat konser itu Seta tidak ada di bangku yang memang aku sediakan untuknya, dan saat aku mengurus visa dan paspor. Hari itu juga dia mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai supir pribadiku, dan malamnya aku meninggalkan tanah airku, aku menginginkan audisi itu.

New York, satu tahun kemudian.

“Pa, hari ini summer vacation, aku pulang ke Indonesia, ya.” Kuhubungi papa lewat ponsel-ku, tak ada kata lain selain boleh tentunya.

Dan dua puluh jam berikutnya, aku sudah berada di dalam istanaku. Rumah yang penuh kenangan di setiap sudut ruangannya, dan entah kenapa aku jadi tertawa dalam hati, dan tak terasa air mataku sudah menetes satu-satu basahai pipiku, ingin aku seka tapi kemudian kuurungkan, karena sebuah kejutan.

Welcome home Aning!” Sebuah penyambutan meriah di tepi kolam renang.

Semua pelayan, pembantu dan yang bekerja di rumahku berkumpul, walaupun tak ada mama dan papa, tapi ada sebuah kerinduan di sana, hadir dan mengejutkan.

“Neng udah gede’ ya, gimana kabar bapak ibu Neng?” Mereka bertanya satu-satu, hingga tak kusadari sebuah aluan melodi dari piano di ruang tengah hadir menyentuh hatiku. A Comme Amour.

Segera kulangkahkan kakiku, dan seketika terhenti, ada Seta di sana.

“Aku terima suratmu hari itu, dan aku kembali ke sini untuk menunggumu pulang.” Dan ia menghentikan permainannya.

Sesaat kami sama-sama lama menatap, dia sudah banyak berubah.

“Kamu, pulang untukku kan?” Ia melanjutkan kalimatnya, di hadapanku.

“Memenuhi janjiku untuk kembali.” Dan ia memelukku hangat.

Hari itu kutinggalkan pesan di atas pianoku, untuknya…

Seta, izinkan aku pergi, demi suatu perubahan yang aku inginkan. Kelak jika sang waktu menjawab perubahan yang kuinginkan itu, aku akan kembali ke rumah ini, dan aku harap kamu menungguku.

Aningtyas Wulandari.

I wroete this at home, Jum’at Agustus 2004

aku merasakan sesak yang luar biasa ketika memastikan ide dasar tulisanku punya level komersil yang ....

ah....

apa tidak bisa, kalau tidak merusak pribadi manusia bangsa ini lagi?????

aku lelah menonton yang berbau komersil dengan sisi pembangunan karakter yang minim. dan tidak kulanjutkan menonton ROMAN PICISAN....

maaf...

-phy-