jangan lupa tinggalkan pesan anda dan komentar anda setiap kali berkunjung ke halaman ini ya.....

Monday, December 23, 2013

[Malang] Kenyamanan yang te-rReduksi

Complaining something like this maybe not usefull for today, but May Allah SWT help me to make this world better for the future, even it something impossible to believe right now.


Jam 4 pagi....
Tidak ingin terbawa emosi sesaat atau juga KEMARAHAN SESAT.
Saya juga gak mau jadi tukang maki yang tidak punya bukti.
Tapi sungguh, manusia punya batas kesabaran, dan yang satu ini sudah 'empet' banget menyimpannya. Sampai bau kayak sisa pencernaan....

Bukan tanpa alasan, tapi siapa yang gak keberisikan dengan teriakan dini hari dengan bahasa 'aneh' yang entah siapa yang mengawalinya...
Yang pasti, kalau memang mereka punya izin dari Abah Anton...

HAI GUYS... THIS TOWN IS NOT JUST HIS OWN... lagian kampung bapakmu dimana, coba kamu bawa sekelompok manusia berisik ke kampung bapakmu, kalau kamu gak dibakar orang kampung utusan bapakmu.


Abah Anton yang kasi izin keramaian???


Sayangnya toleransi dilakukan hanya karena tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya.


Setelah saya mention mereka berkali-kali cuma satu yang nyaut!
Tangan-tangan kekuasaan seakan-akan menghapuskan banyak toleransi yang harusnya lebih diperhatikan.

Baiklah kawan-kawan, saya ceritakan sedikit tentang kampung saya yang bernama Merjosari.

Dulu waktu awal saya jadi penghuninya (1990-1998), kawasan desa ini hanya berisik dengan para pemancing belut di pematang sawah, atau gaduh karena layar tancap dan wayangan semalam suntuk yang sebulan sekali juga tidak mesti.

Sekarang kawasan ini berangsur menjadi bagian penting kota, dengan lebih dari 60% warganya adalah pendatang. Mahasiswa atau pekerja komuter.

Dan rumah yang saya tempati empat tahun terakhir ini (2010-sekarang) rumah yang berada satu kavling dari jalan utama Merjosari ini adalah rumah yang sama yang saya tempati di awal tahun 1990, dan belum berubah. Terjepit, nylempit, dan mulai keropos termakan usia, dan juga jadi semakin terhimpit karena pembangunan Ruko di sepanjang ruas jalan utama.


Bagian Belakang Kafe yang kelihatan dari rumah saya.
Apa daya, warga kampung juga tidak bisa menolak perkembangan yang terjadi, tapi CULTURE SHOCK yang satu ini bahkan hanya ditanggapi dengan desahan nafas lelah oleh seorang ibu lansia pengurus PKK aktif yang sering saya temui.

"Ya, mau dibilang bagaimana Mbak. Lha, wong Pak RW-nya saja gak bisa berbuat." Itu kalimat yang terekam sepanjang tahun ini dalam otak saya.

Dan memang kenyataannya, pihak warga memang tidak bisa melakukan apa-apa, karena yang asli orang Merjosari dan  tinggal disekitar tempat-tempat berisik ini adalah para lansia, yang sebenarnya juga sudah berumur untuk pindah rumah lagi.

"Wes guyub, Mbak. Mau cari keluarga dimana lagi? Lha sudah sepuh begini." Dan orang tua yang berbeda mengingatkan saya tentang betapa warga masyarakat asli Merjosari ini begitu menyenangkan.

Lalu yang berisik siapa???

Ya. 90% nya adalah pendatang.
Dan mereka sebenarnya juga tidak semuanya tinggal di daerah Merjosari.
Dan entah kenapa orang-orang tua ini tidak lagi sanggup menegur mereka, karena setiap hari para pendatang itu tidak pernah sama. Silih berganti datang dan Pergi.

Kenyamanan yang ter-reduksi, dan kesabaran yang terkikis...

Saya teringat tentang Jakarta, dan perkembangan desa menjadi kota selalu membawa dampak negatif bagi beberapa hal.
Walau saya telponkan polisi sekalipun, pasti mereka akan kembali lagi.

Entah kapan ada kebijakan yang bisa memperbaiki proses asimilasi budaya yang tidak pada tempatnya ini. Karena yang saya tahu, mungkin memang tidak hanya terjadi di kampung saya hal-hal semacam ini.

Kalau boleh berdoa, saya akan meminta supaya anak bangsa ini semua jadi MANUSIA TERDIDIK; tahu sopan santun, berkesadaran dalam bermasyarakat, tidak mengganggu kepentingan umum, mau melihat dan mendengar nasehat kebaikan yang disampaikan walau hanya oleh satu orang bodoh, buta, dan pikun.

Hahahaha... dan saya pasti akan dimaki lagi setelah memposting tulisan ini...
Dan saya akan mulai menghubungi semua kampus di Malang Raya, juga semua kantor Pemerintahan, supaya mulai memberikan penyuluhan kepada semua Pendatang!!!

Entah akan jadi apa kota ini nantinya... jakarta? Ya.... selama tempat berisik seperti Kafe yang 20 meter dari rumah saya ini punya peredam suara... dan yang nonton bareng gak sampai melimpah ke jalan....
why not? Toh lapangan Merjosari juga tersedia untuk umum.


Salam dari Bumi Arema.
-ephy-
Emak-emak bawel yang gak suka dibawelin v(^__^)v

No comments:

Post a Comment

tinggalkan pesan dan komentar anda disini