Powered By Blogger
Jangan lupa tinggalkan pesan anda dan komentar anda setiap kali berkunjung ke halaman ini ya.....
Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Wednesday, September 26, 2018

Pinta

Secarik kertas kecil berisikan pesan singkat, dituliskan dengan pen tinta warna hitam pekat ; jangan tunggu aku lagi.
.
.

Setiap kenangan itu berkesan, namun yang melekat lama dan menjadi kenangan tentu bukan hal sepele atau remeh yang mungkin terbaik dalam satu goresan.
Itu yang ada dalam benakku kemarin, saat menerima kabar duka dari Medan. Kali kedua dalam satu minggu ini. Dan tentu saja mereka yang pergi ada hubungan kerabat.
Yang pertama adalah seorang keponakan, anak pertama dari sepupu di pihak papa. Beberapa bulan terakhir sakit, dan akhirnya meninggal di usia yang lebih muda dari anak pertamaku. Goresannya tidak terlalu dalam di benakku, karena aku belum pernah bertemu langsung. Namun kali yang kedua berita duka datang kemarin, Abang sepupu; anak dari kakak sulung mama. Rasanya sedikit ambigu.
Setelah dua puluh tahun tak pernah bertemu muka, rasanya aneh kalau aku merasa masih mengenalnya. Ya... Dua puluh tahun lalu mungkin kami pernah akrab, tapi sekarang? Setelah mendengar kabar dia meninggal?
.

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّاالْإِحْسَانُ •

Ada yang pernah bilang, "hargai mereka yang masih menanyakan kabarmu walau hanya lewat pesan singkat atau di media sosial."
Mungkin awalnya akan ada yang bertanya, "kenapa?"
Namun jika kembalinya pada kita hanya berita kematian berikutnya, maka akan baru terasa, bahwa hubungan baik itu perlu. Rasa bersaudara walau jauh dan di perantauan itu perlu. Sekalipun kita miskin dan tidak bisa pulang kampung, menyapa walau sesekali itu perlu.
Toh teknologi sekarang ada, sms, wa, video call tidak semahal tiket mudik lebaran.
.

Bukankah balasan dari kebaikan itu pasti kebaikan juga?

Tidak yakinkah kita akan janji ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala dalam kalam-Nya?

Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi kah yang kamu dustakan?

.

Secarik kertas kecil berisikan pesan singkat, dituliskan dengan pen tinta warna hitam pekat ; *jangan tunggu aku lagi.* Kini mengacaukan isi otak dan hati, antara tidak mengerti maksudnya dan tidak tahu apa yang harus dilakukan berikutnya.

Jangan sampai kemarahan membubarkan segala hal baik yang sudah dibangun menjadi pondasinya.
Jika masih ada kebaikan, segeralah berbaikan.
Jika masih ada keinginan mempertahankan perjalanan di jalan kebaikan, berlarilah. Balas ah kebaikan-kebaikan itu dengan kebaikan.
Jangan didiamkan saja.
Karena jika nanti yang datang berikutnya hanya berita kematian, maka hanya penyesalan yang akan mengakhiri segalanya.
.

((Prolog))
"Aku sudah gak bisa menjalani semuanya ini lagi. Kamu gak punya peduli yang sama seperti sepuluh tahun lalu saat ingin memulainya dulu. Bahkan kamu sudah tidak mendengarkan lagi setiap aku bicara. Buat apa aku bicara dengan punggungmu?"
Omelan kemarahan yang memenuhi ruangan itu hanya dijawab dengan diam.
*Aku pergi, jangan tunggu aku lagi.*
Pesan itu ditinggalkan di belakang punggung yang diam. Karena bicara mungkin akan membuat cermin retak itu pecah berurai menjadi serpih-serpih luka.

.phy.
26 September 2018

Tuesday, May 01, 2007

sesuatu dibalik drama televisi

sesuatu dibalik drama televisi yang membuat batinku merasa harus mengisi halaman-halaman ini kembali...
ini sesuatu tentang yang berjudul ROMAN PICISAN
diperankan oleh EVAN SANDERS dan NIKITA WILLY...
ah....
aku ingin marah!!!
tapi pada siapa?
untuk apa?
lalu?

coba baca tulisan yang pernah aku buat ini....


Aku sudah bosan, aku bosan dengan apa yang selalu aku lakukan sendiri, dengan mama yang sibuk di London, papa yang jarang pulang dari New York, dan aku? Aku anak tunggal dengan rumah yang seperti istana, dan hidup layaknya putri. Teman-teman di sekolah? Tidak, jangan pernah tanyakan tentang teman-temanku, aku gak akan pernah serius menanggapi mereka sebagai teman, manusia-manusia itu… mereka hanya mau memanfaatkan kekayaan orang tuaku, kepintaranku, atau juga kecantikanku. Dan sampai hari ini, aku masih tidak tahu, apa yang seharusnya aku lakukan, sampai dia datang… dia.

Namanya Seta, dia bukan saudaraku, sepupu, keponakan, atau apapun itu yang masih berhubungan darah denganku, tapi dia benar-benar mempesonaku. Dia supir baruku, namanya Arya Seta. Waktu itu mau ku panggil Arya, biar lebih keren, tapi dia tidak mau dia suka dengan namanya, Seta. Usianya dua puluhan, dan papa memintanya menjadi supir pribadiku karena ulang tahun yang kemarin papa menghadiahkan sebuah Baleno untukku, warna hitam metalik. Dan dengan Seta sebagai driver-nya jadi lengkap sudah, mobil keren dengan supir keren.

Awalnya aku gak percaya kalau dia jadi supir karena butuh uang, karena sebenarnya dia bukan orang baru di kantor papa, sudah terlalu lama dia tidak bisa naik jabatan katanya. Mmm… di kantor papa dia bagian dapur dan akhirnya dia menawarkan diri untuk menjadi pembantu di rumah pada papa, tapi papa malah memberinya pekerjaan menjadi supir pribadiku. Ah… terlalu lama, bertele-tele.

Begini ceritanya, siang itu, bulan kedua Seta menjadi supirku…

“Seta, nanti pulang sekolah, aku janjian sama Della mau ke Gramedia, jadi jangan telat, ya.” Aku mengatakannya setelah ia menghentikan mobilnya tak jauh dari gerbang sekolahku.

“Ya, mbak, saya juga jarang-jarang telat jemput mbak.” Candanya padaku.

“Hmmm… iya ya? Ya udah.” Dan aku meninggalkan mobilku.

Della, dia pe-ngeceng sejati, aku gak tahu berapa banyak gebetannya, berapa kali dia sudah pacaran, berapa banyak pula pacarnya hari ini. Dia seleb sekolah, Della jalan denganku baru satu minggu waktu hari itu, tapi ya… yang namanya teman untukku itu hanya untuk keluar, jalan, shopping, dan paling puol… adalah nonton. Siangnya ketika bel pulang berbunyi Seta sudah ada di depan sekolah, dia sedang bersandar pada dinding mobil dan menatap kearah gerbang, menungguku.

“Hai, Seta dah lama nunggu?”

“Belum, sepuluh menit.” Dia melirik jam di tangan kirinya.

“Siapa, Ning?” Della berbisik di telingaku.

“Oh, ya, Seta, ini Della. Del, ini Seta.” Mereka bersalaman.

“Mas, cakep, deh. Pacarnya Ning?” Satu kalimat yang tak sempat aku perkirakan, dan itu membuat Seta membungkam mulutnya sendiri.

“Bu…bukan…” Dia tertawa, dan kemudian membukakan pintu mobil untukku, dan setelah Della dan aku masuk, dia menuju belakang kemudi.

“Sorry, Del, dia bukan pacarku, dia supir baru papaku.” Bisikku pada Della dan membuatnya melotot kaget.

“Mas, beneran mas supir?” Tanyanya tak percaya, ketika Seta memutar setirnya. Dan dia hanya mengangguk sambil menahan tawa.

Lagu itu nyaring dari sound di dalam mobilku, Bintang by Air. Dan kami menuju mall terbesar di kota ini, aku mau belanja, especially books.

Pulangnya setelah mengantar Della, aku duduk di depan, di sebelah Seta, tampaknya dia sedikit tidak nyaman aku duduk di sebelahnya. Karena selama dua bulan aku selalu duduk di belakang.

“Seta, kenapa?”

“Mbak kenapa gak duduk di belakang?”

“Gak suka saya temani?” Tanyaku memastikan.

“Gak pa pa, tapi tumben saja.”

“Aku pingin cerita sama kamu, tapi janji jangan cerita pada siapapun di rumah atau di manapun.” Jelasku, dia mengangguk setuju.

“Menurut kamu Della itu cantik gak?”

“Cantik, kenapa Mbak?”

“Di sekolahku banyak yang secantik Della atau malah lebih cantik. Mereka semua suka sekali dengan barang mewah, termasuk Della, tapi sebenarnya ketika aku bersama mereka, jujur saja… aku bosan.”

“Bosan kenapa, Mbak?”

“Seta, kamu pernah gak punya jam tangan harga dua atau tiga juta?” Aku bertanya padanya, dan tentu saja dia menggeleng, dia hanya supir, bukan papaku.

“Buat mereka itu biasa, dan aku bosan terus-terusan hanya dipedulikan dengan uang.” Dan aku menghela nafasku lelah.

“Jadi, Mbak mikirnya orang tua Mbak hanya mempedulikan Mbak dengan uang saja.” Dia menebaknya dengan tepat.

“Mungkin, gak boleh ya…, tapi aku ingin merubah gaya hidupku ini, kamu ada saran gak, Ta?” Dan aku menatapnya penuh harap.

“Mbak minta saran saya?” Dia menatap, jauh dalam mataku, menembus hatiku.

“Aku pikir kamu lebih dewasa daripada aku, dan kamu pasti punya solusi yang baik untuk aku jalani.” Dan aku melepaskan tatapan itu.

Pembicaraan kami terhenti, karena kami sudah sampai di gerbang rumahku. Dan aku meninggalkan Seta, tanpa kata-kata lagi. Aku harap dia punya jawaban dari keinginanku itu, kalau pun mama dan papa tidak mengizinkanku untuk berubah, aku akan bersujud di kaki mereka agar mengizinkanku berubah, karena satu bulan setelah hari itu Seta benar-benar merubahku.

Sebuah kehidupan yang baru. Seta tak lagi menjemputku dengan Baleno, aku berangkat dengan Baleno dan pulang naik angkot, berdua dengan Seta tentunya. Week end ku bukan ke mall atau nonton, Seta mengajakku ke perpustakaan umum kota, dan kami menghabiskan banyak buku untuk dibaca di sana, dan pulang ketika matahari sudah turun. Jadwal shoppingku setiap hari jum’at dihapus, aku menambah jadwal les pianoku dan bahasa jepang. Gak ada lagi Indovision 24 jam, yang ada hanyalah tambahan kelas baletku, selainnya itu, menu makanku juga berubah. Hidangan yang biasanya selalu lengkap, sejak hari itu jadi seadanya, secukupnya, dan tak lagi berlebih satu butir nasi pun. Semuanya berubah.

Awalnya memang sangat sulit, tiga hari setelah pulang naik angkot aku kena flu, polusi membuatku terkontaminasi. Saat kali pertama ke perpustakaan umum kota, aku sangat heran, sebab bangunan yang dulu selalu aku kira kantor Pemda itu tenyata adalah istana buku. Shopping, Della sempat heran, karena sebelumnya kami sudah buat janji untuk hunting baju baru saat week end berikutnya, tiba-tiba aku membatalkannya. Della sempat berbisik padaku saat itu…

“Kamu pacaran sama Seta, ya?” Dan Della benar-benar membuatku panas. Dia berteriak pada seisi kelas, mengumumkan kalau aku pacaran dengan supirku. Aku menyerah padanya.

Dan guru les pianoku sangat heran ketika kuminta jam tambahan, tapi hasilnya? Aku dapat tawaran untuk membuat konser perdanaku. Ballet, hal yang aku tekuni sejak usiaku enam tahun itu… Mother Ter menawarkanku untuk ikut audisi sekolah balet di New York, dengan begitu aku bisa tinggal dengan papa, tanpa harus kesepian di rumah, atau merasa bosan karena tak punya teman bicara. Dan setelah semua itu berjalan selama enam minggu, papa dan mama pulang.

“Kamu yakin mau pindah ke New York?” Tanya mama tak percaya.

“Audisinya dua bulan lagi, dan dalam dua bulan ke depan Ning sudah akan menyelesaikan tahun ajaran ini, Ma.”

“Mama, dan papa tidak akan keberatan, kamu mau di London atau di New York bersama papa, itu bukan masalah. Tapi apa kamu benar-benar tidak apa-apa meninggalkan sekolah dan teman-temanmu?” Mama menatapku ragu.

“Teman Ma, teman yang mana?” Aku tak mengerti, mereka tak pernah kenal siapa temanku, mereka tak pernah tahu itu.

“Mama pikir gak mungkin kalau kamu gak punya teman, Sayang. Pasti ada, ini adalah rumah kita, di sini tanah airmu, pikirkan lagi.”

“Paspor dan visamu bisa diurus segera kalau kamu tekadmu sudah bulat.” Papa menimpali.

“Tak ada yang melarangmu untuk pergi, Sayang. Gak akan ada yang berubah.” Papa menatapku berbeda, dan beliau memindahkan tubuhnya kedekatku dan kemudian merangkulku dalam dekapannya.

Berubah, sudah terlalu banyak aku berubah, selama satu bulan ini, dan segalanya membuatku tak lagi bosan. Tak ada keglamouran, tak ada foya-foya, tak lagi pemborosan, dan… tak ada lagi kata kesepian, karena aku selalu berada di tengah keramaian. Besok adalah konser perdanaku, dan malam ini aku tak bisa tidur nyenyak setelah apa yang dikatakan mama tadi….

“Mama, dan papa tidak akan keberatan, kamu mau di London atau di New York bersama papa, itu bukan masalah. Tapi apa kamu benar-benar tidak apa-apa meninggalkan sekolah dan teman-temanmu?”

Hanya karena kalimat itu, aku kembali meninggalkan kasurku yang tetap nyaman dan hangat waktu malam, dan aku menuruni satu-satu anak tangga, kulangkahkan kakiku menuju piano besarku di ruang tengah, dan kurasakan sepi itu lagi, karena saat malam datang, memang hanya sunyi yang hadir di rumah sebesar istana ini. Dan satu-satu aku mulai menggerakkan jemariku di atas tuts putih dan hitam pianoku. Dan satu lagu yang akan kumainkan besok, A Comme Amour by Richard Clayderman. Tak terasa air mataku basahi pipiku, dan saat nada terakhir di ujung jariku, satu suara mengejutkanku.

“Mainkan lagi.” Seta, aku sangat terkejut melihatnya.

“Kenapa berhenti? Mainkan lagi, yang terakhir, untukku.”

“Terakhir?”

“Besok aku berhenti, besok setelah kamu putuskan untuk pindah ke New York dan mengikuti audisi sekolah ballet itu.” Dia menatapku dalam kegelapan itu.

“Berhenti? Sudah cukupkah tabunganmu, dan gak perlu pekerjaan sebagai supir lagi?” Aku menanyakannya.

“Aku harus berhenti karena tak ada lagi orang yang harus aku antar dan aku jemput setiap harinya, dan aku gak mau kalau harus tetap di sini, tanpa kamu.” Ia berbalik dan melangkah, tapi aku masih saja sulit mencerna kalimatnya itu, aku bingung.

Dan aku tetap pada pilihanku, saat konser itu Seta tidak ada di bangku yang memang aku sediakan untuknya, dan saat aku mengurus visa dan paspor. Hari itu juga dia mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai supir pribadiku, dan malamnya aku meninggalkan tanah airku, aku menginginkan audisi itu.

New York, satu tahun kemudian.

“Pa, hari ini summer vacation, aku pulang ke Indonesia, ya.” Kuhubungi papa lewat ponsel-ku, tak ada kata lain selain boleh tentunya.

Dan dua puluh jam berikutnya, aku sudah berada di dalam istanaku. Rumah yang penuh kenangan di setiap sudut ruangannya, dan entah kenapa aku jadi tertawa dalam hati, dan tak terasa air mataku sudah menetes satu-satu basahai pipiku, ingin aku seka tapi kemudian kuurungkan, karena sebuah kejutan.

Welcome home Aning!” Sebuah penyambutan meriah di tepi kolam renang.

Semua pelayan, pembantu dan yang bekerja di rumahku berkumpul, walaupun tak ada mama dan papa, tapi ada sebuah kerinduan di sana, hadir dan mengejutkan.

“Neng udah gede’ ya, gimana kabar bapak ibu Neng?” Mereka bertanya satu-satu, hingga tak kusadari sebuah aluan melodi dari piano di ruang tengah hadir menyentuh hatiku. A Comme Amour.

Segera kulangkahkan kakiku, dan seketika terhenti, ada Seta di sana.

“Aku terima suratmu hari itu, dan aku kembali ke sini untuk menunggumu pulang.” Dan ia menghentikan permainannya.

Sesaat kami sama-sama lama menatap, dia sudah banyak berubah.

“Kamu, pulang untukku kan?” Ia melanjutkan kalimatnya, di hadapanku.

“Memenuhi janjiku untuk kembali.” Dan ia memelukku hangat.

Hari itu kutinggalkan pesan di atas pianoku, untuknya…

Seta, izinkan aku pergi, demi suatu perubahan yang aku inginkan. Kelak jika sang waktu menjawab perubahan yang kuinginkan itu, aku akan kembali ke rumah ini, dan aku harap kamu menungguku.

Aningtyas Wulandari.

I wroete this at home, Jum’at Agustus 2004

aku merasakan sesak yang luar biasa ketika memastikan ide dasar tulisanku punya level komersil yang ....

ah....

apa tidak bisa, kalau tidak merusak pribadi manusia bangsa ini lagi?????

aku lelah menonton yang berbau komersil dengan sisi pembangunan karakter yang minim. dan tidak kulanjutkan menonton ROMAN PICISAN....

maaf...

-phy-


Thursday, February 22, 2007

rUnnEr



DUA PELARI
ini bukan kisah nyata... tapi yang pasti ceritanya dari eksplorasi ide dalam benak dan kisah kehidupan yang pernah aku alami...
gak akan pernah ada yang percaya kalau aku bilang, aku pernah ditawari jadi pelari di jalur sprint...
tapi menjalaninya di hari-hari sekolah dan saat jam pelajaran...
itu sudah cukup bagiku.
dan cerita ini dimuat di majalah KAWANKU juni 2005....
silahkan dinikmati ceritanya...
-phy-

Sunday, February 18, 2007

My Five Minute, I ask it to someone... but didn't get it...



five minute
awalnya ide cerita ini tentang shalat lima waktu...
tapi...
ternyata...
berubah....
jadinya cerita ini...
dimuat di majalah KAWANKU Januari 2004
jadi....
boleh deh menyimpulkan isinya setelah membacanya
ini ditujukan untuk seorang yang sampai hari ini aku selalu ingin bilang....
"lima menit darimu, mendengarkan permintaan maafku... aku berharap dapatkan itu darimu, Serr!"
selamat membaca...
malang net - sigura-gura
no.20

Thursday, February 08, 2007

bahasa terakhir indonesiaku



cerpen ini di muat di majalah KAWANKU no.27 XXXIII januari tahun 2004
setelah nya ada beberapa tulisan lagi yang sempat dimuat
produktifitas saya tidak lagi di genre remaja
tapi masih ada beberapa tulisan tentang remaja yang saya karyakan
inginnya supaya semua tau, kalau saya masih menulis
setelah ini...
tolong di doakan
biar bukunya jadi....
love n hope
-phy-

Sunday, March 13, 2005

Cerpen kedewasaan

Bukan Sebatas Cinta
Memutar langit
Membalikkannya jadi bumi
Menukar kehidupan dengan kematian
Tak ada yang bisa jadi jaminan
Segala yang tidak menyenangkan
Bisa jadi menyenangkan
Yang menyenangkan bisa jadi lebih menyenangkan…
Itu yang ditulis Shinta di pembukaan e-mailnya hari itu, dan aku hanya bisa menangis menyesal, karena semuanya telah terjadi. Segala yang seharusnya tidak seharusnya terjadi, kalau aku mau berfikir sehat tentang semua yang dituliskan Shinta dalam setiap e-mailnya. Karena aku terlalu bodoh, merasa bahwa diriku sudah dewasa, sudah bisa menentukan masa depanku dengan orang yang mencintaiku, dan melepaskan diri dari kehidupan orang-orang yang sok mengaturku. Dan ternyata satu kesalahan tak terelakkan, dan aku hamil.
Aku tak berani mengatakannya pada mama atau papa, jelas mereka akan langsung membunuhku kalau mereka tahu aku sudah melakukan satu hal yang diluar akal sehat, padahal ujian sudah dekat. Jadinya aku bohong, aku menutupinya hampir selama lima bulan, dan aku memang lulus dengan selamat, tapi tidak saat aku akan melahirkan. Aku semakin down dan tak punya penyemangat, sampai aku ingat kembali Shinta, dia adalah sahabat yang tersiakan olehku. Dan itulah e-mail jawabannya, aku mencoba mencernanya.
“Sedang apa sayang?” Dia memelukku hangat, sambil membelai perutku.
“Baca e-mail, dari Shinta.” Jawabku dan masih saja kubiarkan dia memelukku.
“Dia cerita apa?” Dan sekarang dia duduk disebelahku, ikut membaca e-mail itu.
“Gak usah sedih, nanti setelah anak kita lahir, kamu boleh melakukan apa saja yang kamu suka.” Dan itu memang janjinya.
“Gimana kalau aku kuliah di Malaysia aja?” Kali ini aku menatapnya penuh tanya.
“Jangan jauh-jauh, dong. Masa anak kita ditinggal sendiri?” Dia tersenyum tanpa dosa.
Tuhan… ini memang salahku, dan aku tak akan lari dari takdirku. Dan aku menyandarkan kepalaku di pundaknya, menikmati waktu terakhirku sebelum aku harus mempertaruhkan separuh nyawaku demi janin yang ada dalam rahimku ini.
Malamnya aku membalas e-mail dari Shinta, dan paginya aku sudah dapat balasan lagi.
Diantara puing-puing kehampaan
Yakinlah pada jiwamu yang masih ingin berdiri
Karena dengan begitu…
Kau akan dapat bangkit dan berbuat
Untuk masa depan dirimu dan semua…
Aku memang semakin takut, aku takut tak diberi kesempatan untuk membesarkan janinku ini, aku takut, kalau ternyata setelah janin ini terlahir dia meninggalkanku dan membatalkan semua rencana yang sudah kuimpikan. Aku masih punya segudang ketakutan yang membuatku semakin kosong-kosong dan kosong, hingga aku tak tahu harus pada siapa lagi aku bersandar. Dan Shinta mengingatkanku pada kuasa Tuhan, hanya Dia yang berhak mengatur bagaimana masa depan akan jadi milik kita. Kita hanya boleh berencana dan harus berusaha, tapi hasil akhir itu hak-Nya lah untuk menentukan. Dan karena ini kesalahanku juga, maka aku harus siap menanggung segala resikonya.
Malam ini aku menelfon mama dan papa, aku memang anak perantauan, dengan segala ide gilaku aku menjalani tahun-tahun terakhir masa SMU ku yang mungkin memang diluar akal sehat. Perkiraan kelahiran bayiku dalam minggu ini, dan sebenarnya aku tak mau sendirian di ruang bersalin nanti walau mama baru tahu tapi dengan rela mama memenuhi permintaanku dan mama berjanji akan datang besok, dan papa mempersiapkan segala sesuatu untuk urusan pernikahanku. Sebenarnya mereka sudah tahu sejak hari wisudaku, tapi aku memberi tahu mereka setelah mereka pulang. Dan mungkin memang tak ada maaf untukku, tapi aku sudah berjanji pada diriku kalau kesalahan ini tak akan terjadi pada anakku. Dan malam ini aku bisa tidur dengan nyenyak, sendiri.
Pagi ini aku kembali memeriksa inbox e-mailku, ada satu e-mail disana, dari Shinta.
Keinginan untuk bangun dalam kesakitan
Seperti usaha hidup teratai tanpa air
Tapi tak sesulit itu jika semua dilakukan
Tak sendiri…
Dear sahabatku yang akan segera jadi bunda, aku punya beberapa nama untuk bakal keponakanku, silahkan dipilih. Walaupun aku rasa kamu sudah mempersiapkan nama untuk cinta pertamamu itu. Gak ada salahnyakan memberikan yang terbaik untuk cintamu itu. Dan salamku juga untuk sang calon ayah, selamat berjuang sahabatku. Doaku selalu untukmu.
Dan dua hari kemudian… siang yang tak begitu melelahkan, hanya beberapa jam setelah mama dan papa datang, aku merasakan mulas dan mama segera mengeluarkan mobilku dari garasi. Saat yang sama kulihat seseorang tersenyum padaku dibalik kaca mobil. Shinta!
“Sabar ya, coba tarik nafas pelan-pelan. Tante biar saya saja yang setir.” Dan dia beranjak kebelakang kemudi.
Entah dimana dia saat ini, aku bahkan tak berminat meraih hp-ku, aku hanya ingin semua berjalan baik-baik saja. Mama ada didekatku, dan Shinta dengan segera mengantarkanku ke rumah bersalin yang sudah aku pesan, dan mereka segera menanganiku.
“Baru bukaan empat, kalau cepat mungkin bisa lahir sore ini, tapi kalau tidak nanti malam.” Dan perawat itu meninggalkanku berdua dengan Shinta.
“Kok, tiba-tiba datang?” Tanyaku padanya.
“Gak tega, sorry, ya…” Shinta menatapku penuh pinta.
“Gak pa pa, makasih banyak. Tapi kamu ambil penerbangan kapan?” Aku masih penasaran.
“Tadi malam, langsung yang ke Singapore, dan tadi pagi sudah sampai aku mampir ke rumah tante nitip tas aja, terus langsung kerumahmu.” Ceritanya.
“Aku ngrepotin kamu, nih.”
“Kan aku yang mau datang, kenapa juga ngrepotin?” Saat itu kulihat ia dipintu ruangan.
“Sayang, sorry… kuliahku penuh.” Dan ia tampak shock ketika melihat Shinta.
“Shinta?” Ia seakan tak percaya kalau Shinta datang untukku. Tapi kemudian dia meninggalkan kami lagi berdua.
“Shin, ini kemungkinan terburuk, kalau aku tak bisa membesarkan anak ini, kamu mau membawanya bersamamu?” Entah darimana ide itu terlintas diotakku.
“Kamu pasti akan membesarkannya, kamu juga sudah janji mau menyusulku kan? Jangan pesimis.” Dan dia tersenyum padaku.
“Aku akan minta izin mama supaya kalau anak ini sudah memasuki usia sekolah, biar dia ikut denganmu, biar dia tidak mengalami hal yang sama sepertiku.” Dan Shinta mengangguk untukku.
Malam itu bayiku lahir, aku sempat melihatnya, pangeran yang tampan, tapi dia masih merah, dan dia tertidur lelap dalam pelukanku. Dan yang kusadari adalah dua hari kemudian aku belum boleh pulang, aku dibawa ke rumah sakit yang lain, kali ini aku di infus kanan-kiri, dan kurasa tubuhku semakin lemah. Setelah itu aku tak tahu apa yang terjadi dalam tubuhku, yang kulihat hanyalah Shinta yang sedang bersimpuh dan menangis berdoa, kudengar lirih suaranya.
“Tuhan, kalau memang Kau hadiahkan usia yang sampai disini untuk Lisa, biarkan dia kembali pada Mu tanpa derita, tapi jika Kau ingin berikan kesempatan lagi untuk Lisa, hentikan dera itu Tuhan.” Dan airmata Shinta jatuh basahi pipinya yang memerah.
Kekasihku, dimana dia? Oh… ya, dia tak mungkin ada ditempat yang sama dengan Shinta, aku menemukannya dikoridor ruang tunggu, diam tertunduk dan membisu. Saat itu kulihat seorang perawat menemuinya, dan mengantarnya keruang dokter, aku disana, aku mendengarkannya.
“Rahimnya tidak cukup kuat, walaupun selama kehamilan baik-baik saja, tapi tidak akan baik untuk kelanjutannya. Kemungkinan dia akan lumpuh total kalau masih bisa bertahan atau kami tak bisa banyak berjanji kalau kondisinya semakin memburuk.” Dan dia tertunduk membisu.
Tak lama setelah aku beranjak dari ruangan itu, aku melihat seseorang menghampiriku, seseorang dengan sinaran putih diseluruh tubuhnya. Lalu aku bertanya padanya, apakah dia datang untuk menjemputku, dia hanya tersenyum. Dan kurasa jiwaku beranjak menjauh dari tubuhku, dan mesin deteksi jantung itu berbunyi kencang. Dokter itu segera beranjak keruang rawatku, beberapa alat dipasangkan ketubuhku, aku dikejutkan dengan listrik, dan kulihat Shinta sedang berjalan kearah ruanganku, mama sedang memeluk cintaku, dan papa tampak tegang didepan ruangan tempatku terbaring. Seakan semua menjauh dariku dan kali terakhir kulihat. Aku pergi.
Lima tahun kemudian.
“Ini adalah catatan yang ditulis sahabat saya, saya rasa para remaja perlu tahu bahwa kehidupan dengan gaya hidup bebas tidak akan memberikan hasil akhir yang baik. Karena itu saya sangat ingin membantu para orang tua untuk menjadikan putra-putrinya menjadi generasi penerus bangsa yang sehat dan berfikiran kritis.”
“Ditulis berdasarkan kisah nyata, dengan nama tokoh yang disamarkan, tapi saya harap ilmunya bisa bermanfaat, saya Devina Shinta Zakiyah.”
Siang yang teduh dan terasa gerah kulangkahkan kakiku menuju makam itu, digandenganku pangeran kecil itu tampak tenang. Dan saat aku bersimpuh dimakam itu dia ikut bersimpuh disebelahku.
“Lisa, ini pangeranmu datang. Besok kami akan berangkat ke Malaysia, mungkin satu tahun lagi baru kami pulang, pamit ya… Deva, pamit sama bunda, dong.” Pintaku pada pangeran itu.
“Bunda, Deva janji akan terus berdoa untuk bunda, Deva janji akan patuh pada Bunda Shinta, kalau Deva pulang Deva pasti jenguk bunda.” Dan pangeran itu menaburkan segenggam bunga yang sedaritadi dipegangnya.
“Lisa, kami pergi.” Dan kutinggalkan pemakaman itu.
Aku mencoba menuliskannya dengan bahasa yang mudah untuk dipahami, supaya mereka tahu tak ada yang meneyangkan dengan gaya hidup bebas, yang mengizinkan manusia-manusia muda itu hidup dengan drugs dan free sex. Agar tak ada lagi Lisa-Lisa yang lain, yang harus menjadi korban cinta buta. Agar tak ada lagi Deva-Deva kecil yang harus hidup tanpa cinta dan belaian kasih bundanya. Dan semoga anak bangsa ini hidup dalam damai dan bahagia.

Malang, 3 nope’ 04 (20.00)
To all young Mommy, be a good Mom!